Sebuah Diary: Catatan Akhir Kepengurusan

kupu-kupu

Sabtu, 20 Desember 2008 bisa jadi salah satu hari monumental bagiku, Musyawarah Tahunan (MUSTAH) Unit  Kegiatan Kerohanian Islam Jama’ah Al Mujahidin Universitas Negeri Yogyakarta (UKKI JAM UNY) yang diadakan rutin setiap tahunnya akan berlangsung hari ini yang mana salah satu rangkaian kegiatannya adalah sidang laporan pertanggung jawaban (LPJ) pengurus. Dalam satu hari ini juga semua aktivitas amanah yang dilakukan selama satu periode kepengurusan dilembaga ormawa tingkat universitas ini dipertanggungjawabkan kepada khalayak umum. Di sidang LPJ ku merasa awalnya biasa saja tidak ada banyak yang begitu mengesankan hanya saja mungkin masalah kondisi yang kecapaian membuat beban sendiri pada saat itu. Tetapi hal ini tidak begitu berpengaruh banyak. Semua dijalani seiring irama pergerakan emosi yang tercipta. Apalagi setelah berada ditengah-tengah orang-orang yang mempunyai semangat luar bisa membuat sirna kecapaian ini.

Satu persatu pengurus harian menyampaikan laporan pertanggungjawaban mereka hingga dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, tak terkecuali aku. Beberapa pertanyaan diajukan. Tidak begitu banyak yang bertanya pada saat itu, berbeda dengan yang pernah aku alami disidang LPJ yang pernah aku ikuti, tanpa kesulitan berarti pertanyaan demi pertanyaan dapat dipertanggung jawabkan. 

Emosi mulai menaik, tanpa disadari detak jantung mulai mengakselerasi geraknya saat sesi penilaian terhadap kinerja selama satu periode kepengurusan. Semula aku yang tidak begitu menghiraukan apa yang menjadi penilaian peserta menjadi kaku beserta syaraf-syaraf tubuh ini. Aku begitu tegang menantikan hasil penilaian, walaupun sadar sebenarnya penilaian ini bukanlah ukuran yang begitu diharapkan. Ada yang lebih haq untuk memberikan penilaian. Penilaian yang diharapkan menjadi bekal menghadap-Nya atau minimal dapat menjadi ‘penebus’ dosa-dosa yang pernah dilakukan.

“Penilaian akan dilakukan dan akan disampaikan oleh perwakilan peserta” tegas pimpinan sidang. Akhirnya yang maju kedepan sebagai perwakilan peserta adalah mantan ketua pengurus diperiode satu tahun sebelumnya. “klasifikasi penilaian terdiri dari baik sekali, baik, buruk, dan buruk sekali. Adapun penilaian dihasilkan dari beberapa indikator penilaian” ujar perwakilan peserta ini. Satu persatu indikator penilaian dibacakan, dilanjutkan satu persatu pula penilaian diputuskan berdasarkan pencapaian indikator. Penilaian diakumulasi dan direrata sesuai jumlah penilaian indikator. Penilaian telah terakumulasi dan pencapaian nilainya adalah 67, 5 atau dengan kategori pencapaian cukup. Artinya LPJ dinyatakan di..te…ri…ma…SubhanallahAllahu Akbar…seketika ketegangan pun mereda, kekakuan pun mencair. Beberapa pengurus harian terlihat begitu haru mendengarka hasil tersebut. Kulihat air mata berderai membasahi muka dari Ketua lembaga, bak bongkahan es yang diguyur air, mungkin saja itu sebagai petanda pelampiasan atas beban yang lama tersimpan dipundak beliau. 

Hari ini, Selasa, 20 Desember 2008, satu hari sudah terhitung setelah hari yang menegangkan itu berlalu. Entah setan apa yang membuatku tertidur lelap hari ini, sesal diri, kupaksakan mengintip suasana diluar kamar tapi mata ini tak kuasa, begitu berat, dengan susah payah kuangkat “katup” penutup mata ini tiba-tiba cahaya yang menyeruak masuk kesela-sela pintu kamar. Akhh..hari ini aku harus mengakui kekalahan dengan raja siang ini, bahkan dia mengolokku dengan sentuhan hangatnya, ya.. dia telah memulai aktivitas lebih awal dari aku.

Tak ku siakan sisa waktu yang ada untuk wudhu, dingin terasa, tapi ini harus dilakukan sebagai salah satu syarat sah melaksanakan sholat.  Sholah subuh pun ku kerjakan yang dilajutkan dengan zikir yang begitu “khusuk”, hingga tak disadari aku sudah didemensi lain. Di alam bawah sadar, disini aku bebas melakukan apa saja. Tapi sekelebat pikiran membuatku tidak bisa berlama-lama menikmati alam bawah sadar ini. Ku terbangun mengakhiri mimpi, kulihat jam yang jarumnya semakin tidak kuat menahan bebannya dari yang kulihat sebelumnya kini turun satu angka dibawahnya,ya…jarum jam menunjukkan pukul 7 Wib. Aku melihat agenda hari ini, beberapa aktivitas telah menunjuk jari, mereka sepertinya sangat antusias agar aku memilih dan mencantumkan dalam list agenda aktivitas yang akan ku lakukan hari ini. Ada  satu aktivitas yang membuatku harus melupakan sementara aktivitas lainnya. Yups.. hari ini lanjutan rangkaian acara Mustah, selain disana ada sidang LPJ yang dilakukan kemarin juga ada kegiatan-kegiatan lain. Hari ini adalah hari terakhir dari pelaksanaan rangkaian  kegiatan Mustah. Salah satu kegiatan yang akan diadakan pagi ini yaitu launching forum alumni Jama’ah Al Mujahidin (aktivis yang kegiatannya berpusat di Masjid Al Mujahidin UNY).

Tapi, baru saja mau beranjak dari singgasana – yang membawa ku terlelap –  tiba- tiba saja tubuh ini malas untuk digerakkan. Suhu tubuh yang tak teratur dan tubuh terasa seperti tidak ada tulangnya (seperti kata temanku) membuatku lemas tak berdaya. Lama ku merenung dalam ketidakberdayaan tersebut, “mungkinkan ini waktuku untuk rehat sejenak” pikirku. Setelah lebih kurang 4 hari sedikit tidur dan pola makan yang tidak teratur demi mencapai target kerja sangat mungkin sekali hari ini adalah klimaks dari pemporsiran kerja tersebut. Akhirnya kuputuskan untuk men-cancel semua agenda aktivitasku hari ini dan mengisinya dengan menu “memanjakan tubuh”.

Semakin menikmati program pemanjaan tubuh ini benar-benar membuat beban yang tersemat di hati dan pikiranku semakin fress. Aku pun terbawa dalam nuansa relaks yang mengantarkanku keruang memori kebahagian bersama saudara seperjuangan di medan jihad kampus UNY, khususnya bersama saudara perjuangan yang baru satu hari berlalu bersama-sama duduk dalam satu barisan untuk saling menguatkan dan mempertahankan argumen ketika laporan pertanggungjawaban kami dipertanyakan. Kesan yang tidak kurasakan dihari pelaksanaan sidang LPJ ataupun rangkaian kegiatan Mustah sebelumnya baru kurasakan saat berada di rungan memori ini. Begitu sesaknya jiwa ketika mengingat harus berpisah dan mengingat kisah perjuangan yang diusung bersama, apalagi  - bila tidak ada hambatan berarti – keberadaanku di kampus tercinta ini tidak sampai satu tahun lagi. Betapa dekatnya hari perpisahan ini.  

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Begitu indahnya, melodi cinta persaudaraan karunia Ilahi, yang (kuyakin) hanya didapat di medan perjuangan dalam membela Din-Nya. Teringat akan pelukkan hangat ketika hati ini rapuh, keikhlasan tausyah yang menjernihkan hati dan alunan ayat suci yang menyejukkan ditengah syuro’ (baca: rapat). Atau teringatkah juga saudara ketika kita berdiri tegak menatap optimis setiap agenda lembaga yang kita lalui sehingga tidak jarang kita lupa malam telah larut, mengingatkan kita untuk tidur. Kita lupa mandi disaat orang-orang memperelok diri, kita lebih memilih puasa agar tidak terganggu waktu hanya untuk makan, kita lupa basahnya pakaian ini karena keringat lelah, bahkan sakit pun kita lupa rasanya. Semua yang kita lakukan ini (InsyaAllah) ikhlas karena Dia, dakwah, dan demi sebuah perbaikan umat serta peradaban Islam yang menjanjikan, khususnya di kampus tercinta ini. Sehingga mungkin bukan suatu yang aib bila keluhan yang tanpa disadari telah keluar dari lisan ini karena beratnya beban. Subhanallah…jika Allah menghendaki…semuanya bisa terjadi…sampai detik ini pun kita tidak dirugikan karena lupa demi lupa kita tadi bahkan yang ada hanya kekuatan ruhiyah yang terus meningkat dan makna hidup yang semakin tersibak atas tempaan ini semua.  

Sahabat, saudaraku, ditengah desakan kosakata yang mengantri untuk dituliskan, kan kuakhiri sementara “curahan hati” ini. Semoga Allah me-ridhoi segala aktivitas dan hembusan nafas kita serta mempetemukan kita di Jannah-Nya. Amin.

Fatabiql Khairat ya akhi/ukhti….Yupss….La Izzata Illa Bil Jihadi!!!

4 Respon untuk Sebuah Diary: Catatan Akhir Kepengurusan

  1. fairuzdarin mengatakan:

    Salam kenal… :)

    Subhanallah. Perjuangan yang indah untuk menggapai ridho-Nya.

    Ohya, kata-katanya juga indah.

    Terus, mmm, kok namaku sudah ada di blogroll, ya? Apakah kita pernah saling kenal sebelumnya? :roll:

    prabuny said
    oh, trimakasih ya..aku ngerti blogmu dari temenku yang juga bantu aku bikin blog ini.he..btw sring2 berkunjung kesini ya..

  2. hanif mengatakan:

    Aku akan merindukan saat2 itu. Saat2 kita syuro, bergadang malam2….ah…suatu saat akan kuceritakan semua itu.

  3. sastroedi mengatakan:

    Dunia kampus terlalu indah untuk dilupakan…..

  4. fadhli mengatakan:

    tali ukhuwah ini tak akan terputus..

    semoga Allah mempertemukan kita semua di Surga-Nya..

    tetep istiqomah.. tetep berdakwah…!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.